RSS

Realitas Sosial-Politik dalam “Tunggu Aku di Sungai Duku” (Esai Budaya, dimuat di Riau Pos Edisi Ahad, 8 April 2012)

Namun aku merasakan sesuatu yang lain ketika memasuki tempat ini. Aku tak peduli apakah ini penjara bagi pesakitan, perampok, pemerkosa, koruptor, bromocorah kambuhan atau residivis kelas kampung. Kalau engkau ingin tahu, Maria, aku merasa inilah tempat yang baik bagi pikiranku, setidaknya aku merasa hidup yang lebih bebas dan pikiranku bisa berjalan dengan seluas-luasnya. (“Penjara”: hal. 3)

Begitulah apa yang dirasakan Rusdi, tokoh protagonis  dalam cerpen berjudul “Penjara”. Ia berkeyakinan bahwa ada penjara yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih kokoh dan lebih segalanya dari apa yang  sekarang dirasakannya. Penjara yang membuat kerangkeng kebebasan menjadi sebatas angan-angan, dan di dalamnya menyelinap kekecewaan, keletihan yang amat dalam. Tapi, satu hal yang mampu membuat Rusdi bisa berpikir lebih tenang ialah karena cinta. Sebuah ukuran kebahagiaan yang kerap membuat manusia mampu bertindak seperti dewa.

Cerpen ini menjadi cerita pembuka dalam kumpulan cerpen Tunggu Aku di Sungai Duku (Palagan Press Pekanbaru, Januari 2012), yang diitulis sastrawan Riau, Hary B Kori’un (HBK) dalam kurun waktu 1992-2006. Cerpen-cerpen yang terbit di beberapa media ini dirangkum agar pembaca bisa kembali menikmatinya, yang juga bisa menjadi “catatan” perjalanan kepengarangan HBK yang sering berpindah-pindah. Itu bisa dilihat dari tempat di mana cerpen-cerpen itu ditulis seperti Muara Bungo (Jambi), Padang, Jakarta, Pekanbaru dan kota lainnya.

Dan ketika saya –sebagai pembaca— menelusuri kesebelas cerpen tersebut, saya menemukan efek dari kenyataan yang mungkin bisa jadi pernah dimiliki si penulis cerita. Mungkin saja, bukan? Kisah-kisah heroik dalam bentuk realisme, kenyataan yang berbalut romantika dalam kemasan karya sastra.

Dalam cerpen “Lelaki Mumi”, misalnya, menceritakan seseorang lelaki yang menjadi kambing hitam dari sebuah insiden peledakan hotel. Hal ini juga terdapat dalam cerpen “Wanita di Seberang Jalan” di mana, di sebuah toko buku terbesar telah terjadi ledakan bom yang melukai banyak orang.  Cerita ini tentu mengingatkan kita pada teror bom yang terus terjadi sepanjang tahun 2000-an. Mulai dari Bom Bali I dan II, JW Mariot, Kedutaan Australia, Ritz Carlton, dan sebagainya yang membuat Indonesia pernah mendapatkan label travel warning dari beberapa negara.

HBK tidak hanya sekadar menceritakan sebuah peledakan dan isu-isu yang menyertainya, namun  berusaha menguatkan karakter masing-masing tokoh dengan transisi keadaan sebelum dan sesudah peledakan terjadi.  Bagaimana si Aku “Lelaki Mumi” yang bersikukuh tidak akan menyerahkan diri karena tidak bersalah dan menemui wanita yang ia cintai sebelum akhirnya ledakan besar terjadi. Dan latar belakang peledakan itu ialah target seorang “Komandan” yang salah sasaran. Meski untuk menutupi hal tersebut, sang Komandan mengkambing-hitamkan kelompok militanlah yang menjadi dalang di balik peledakan hotel, di mana si Aku hampir tewas dan kini terbaring lemah dalam balutan perban di sekujur tubuhnya tanpa identitas. Ah, kekuasaan benar-benar bisa merubah keadaan menjadi lebih kritis.

Sementara itu, cerpen “Tunggu Aku di Sungai Duku” (TAdSD) —yang menjadi judul utama kumpulan cerpen ini— menceritakan tentang Nyimas Rita Umi Kalsum yang terus saja menungggu kekasihnya, Martin,  yang tengah melakukan pelayaran dari dermaga Sungai Duku untuk berkeliling dunia.

Cerita ini mengambil sudut pandang yang berbeda, dimulai dari tokoh Umi Kalsum yang duduk di dermaga saat hari pertama kepergian Martin,  kemudian surat dari Martin sendiri yang berada di Kepulauan Anambas, cerita kembali di Sungai Duku yang telah bertahun-tahun pasca kepergian Martin, orang ketiga, dan berakhir dengan si Aku (kini) yang ternyata tengah bercerita dan mempertanyakan sendiri perihal kebenaran kesetiaan itu pada kekasihnya, Alia.

Cerita TAdSD mengusung nilai kesetiaan yang tak terukur. Bagaimana mungkin bertahun-tahun duduk di tepi dermaga hanya demi menunggu kekasihnya kembali  pulang. Cinta seperti apakah itu? Cinta zaman bahuela yang mungkin bisa jadi masih ada di sekitar kita, bisa benar adanya, namun bagi sebagian orang menjadi salah satu kebodohan terbesar.

Tertambat di manakah kapalmu saat ini, Martin? Di Madagaskar, Srilanka, Selat Melaka ataukah hampir sampai di Sungai Duku? Aku sebenarnya capek menunggumu berpuluh-puluh tahun seperti ini, namun cinta membuatku selalu menunggumu dan melupakan semua rasa capek dan penat itu. Meski aku tidak yakin, tetapi aku selalu berharap dan ingin selalu memahami, bahwa cintaku tak pernah terukur dengan apapun, termasuk oleh waktu seperti sekarang ini. (TAdSD: 38).

Berkuasanya cinta, berkuasanya segala rasa harap yang ada, membuat kekuatan datang dari dalam diri seseorang. Melupakan ketakutan-ketakutan dan bertindak di luar batas rasional. Namun sesungguhnya tampak ironis, menyedihkan dan tentunya kekesalan dari saya selaku pembaca. Bukankah cinta itu kebahagiaan dan kerelaan. Betapa dapat kita rasakan kesepian yang dijalani Umi Kalsum. Ah, lagi-lagi kuasa cinta pula yang membuat tampak kritis.

Pada cerpen yang lain, HBK  menceritakan gamblang kejadian pasca kerusuhan 1998 dalam cerpen “Maria” dan “Luka Beku”. Dengan latar belakang HBK sebagai jurnalis, dengan  referensi yang banyak  yang bisa ia ramu sedemikian rupa menjadi sebuah karya fiksi. Bagaimanakah fakta di tempat berbicara, bagaimana sebuah ideologi  bergejolak ketika itu, di mana masyarakat harus tunduk pada aturan yang terkesan “memaksa” dan berbenturan dengan nilai-nilai murni kehidupan itu sendiri.

HBK menilik sebuah alternatif lain dalam hal pembelaan terhadap kaum minoritas yang terjadi di sekitar kita. Dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, romantis dan di sisipi kejadian-kejadian krisis dalam sebagian orang memandang hidup. Maka lihatlah dalam cerpen “Wanita Penunggu Kayu Tanam”, “Nyanyian Batanghari”, “Laksmi”, dan  “Mayat di  Kereta Api dan Lelaki Tua yang Selalu Menunggu”, HBK seolah-olah bernostalgia pada sebuah cinta yang dingin, meski tak bisa dijabarkan dengan sistematika apa, bagaimana, dan kenapa. Dia berhasil membahas sejumlah perasaan yang gelisah.

Dari sekian cerpen tersebut, saya begitu tertarik dengan cerpen berjudul “Pulang”. Cerpen ini  memiliki kesamaan latar emosional dengan novelnya, Malam, Hujan (nominator Ganti Award 2006). Ada “dendam” dari seorang anak pada ayahnya. Kekerasan fisik dan psikis yang diterima si Aku terjadi  akibat kesusahan hidup berkepanjangan yang dirasakan keluarga mereka. Si Aku enggan pulang setelah pergi dari rumah setamat SMA,  dan berusaha berbesar hati untuk pulang setelah lima belas tahun lamanya tak bersua, namun di luar kuasanya, si Aku yang mulai bisa memaafkan itu sang Ayah, harus memendam penyesalannya seumur hidup.

Dramatis memang. Padahal hanya berjarak satu kilometer lagi untuk si Aku menemui ayahnya yang  sekarat. Namun jarak dan waktu itu seperti bentangan lima belas tahun lamanya.

Warna lokalias dan teknik bercerita yang diramu dan dideskripsikan, menjadi pemikat yang tak bisa tidak, kerap mengawang-awang di kepala sehabis membacanya. Ada pergulatan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan kehidupan itu sendiri. Nilai-nilai yang hendak diutarakan sebagai sebuah efek dari simbol kekuasaan pribadi manusia. Kepiawaian HBK sebagai tukang cerita terlihat dalam cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini. Bagi pembaca yang sudah membaca salah satu atau lebih dari 6 novelnya yang telah diterbitkan, bisa melihat kembali bagaimana dia mempermainkan watak tokohnya, yang sekaligus mengaduk-aduk pikiran kita sebagai pembaca. Ada kekuasaan yang rakus, realitas sosial sebuah bangsa, keburaman hidup, cinta platonis, kesetiaan tanpa batas,  dan hal-hal ironi lainnya

***
Cikie Wahab
Lahir dan besar di Pekanbaru. Belajar di Sekolah Menulis Paragraf. Selain menulis esai dan sajak, juga menulis cerpen yang dimuat di berbagai media seperti Riau Pos, Padang Ekspres, Sumut Pos, Majalah Sagang, Majalah Story dan yang lainnya. Beberapa cerpen, sajak, dan esainya masuk dalam beberapa buku bunga rampai. Tinggal di Pekanbaru.

 
Leave a comment

Posted by on 11 April 2012 in Acara

 

MABUK (Cerpen Febby Fortinella Rusmoyo, dimuat di Pekanbaru Pos Edisi Sabtu, 17 Maret 2012)

“Kemana kita lagi?” tanya Abang.

“Mmm…, terserah abang lah… Kan abang tuan rumah…” Aku nyengir. Abang tertawa miring. Dia memang selalu begitu.

Kunjunganku ke kotanya kali ini sama seperti sebelum-sebelumnya, atas permintaannya. Dan kali ini dia beralasan sedang kurang enak badan, ingin merasakan pijatanku.

“Teman abang main jam 11 ini di XY Pub…” Halus sekali caranya mengajakku dugem. Aku memang belum pernah dugem dan dia sangat tahu itu. Sementara dunianya adalah malam dan lampu disko. Tapi terus terang aku penasaran juga ingin merasakan bagaimana hiruk-pikuknya diskotik.

“Sekarang masih jam 10 kurang. Masih lama,” balasku.

“Memangnya kamu mau?”

“Mmm…, yaa…, sekali-sekali nyoba…” Aku ragu, tapi mau.

“Yakin? Nggak nyesal nanti?”

“Yang nanti tu nantilah…”

Abang senyum penuh kemenangan.

“Kita muter-muter dulu lah ya,” ajaknya.

“Boleh.”

Kami meninggalkan rumah makan di tepi laut yang sangat eksotis, tempat favorit kami makan malam setiap kali aku datang mengunjungi Abang di kotanya yang terletak di pinggir laut. Abang memang pencinta pantai, laut, dan ombak. Saat melihat para remaja bersenda-gurau di pinggir pantai, atau bernyanyi-nyanyi sambil bermain gitar, dia selalu teringat Pantai Kuta, ketika dia mengikuti nude party bersama bule yang dipandunya.  Bule wanita itu, yang ingin menikahinya ketika dia masih berusia 24 tahun. Padahal wanita itu sudah berusia 30 tahun. Wanita Skotlandia itu pun berjanji akan mengikuti keyakinan Abang jika Abang mau menikahinya. Tapi Abang menolak karena belum siap menikah. Cerita yang selalu membuat darahku menggelegak tertahan membayangkannya.

Kami berputar-putar mengelilingi kota pantai ini, walaupun tetap saja tidak jauh dari tempat semula, tidak jauh dari pantai, karena yang dia inginkan adalah mendengar suara ombak. Selama perjalanan, kami tak banyak bicara. Seperti biasa, karena Abang memang terlalu pendiam dan aku terlalu bodoh untuk memulai percakapan. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul sebelas lewat.

“Kita langsung ke XY saja?” tanya Abang.

“Boleh…”

Aku tahu, ini bukan yang pertama kalinya bagi Abang ke XY Pub. Tak mungkin dia sehafal ini dengan jalannya jika belum pernah kesana. Memasuki XY Pub, jantungku mulai berdebar. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di diskotik, pub, atau apapunlah namanya. Bedanya saja aku tidak tahu. Yang aku tahu semua tempat itu hanya menawarkan kenikmatan sesaat. Tapi toh aku penasaran juga dan pada akhirnya sampai juga di tempat itu.

Pusing. Itu hal pertama yang aku rasakan karena kelap-kelip lampu disko yang menyilaukan. Abang membimbingku mencari tempat duduk yang nyaman, agak di pojok tapi di depan, dekat dengan panggung, agar dia mudah didatangi temannya yang sedang tampil malam itu.

“Minum apa, Han?”

“Hani ikut Abang aja…”

Long Island dua ya…” ujar Abang pada waiter yang juga temannya. Aku pernah mendengar nama minuman beralkohol yang satu ini, tapi aku tak tahu rasanya. Dan sebentar lagi aku akan merasakannya.

Abang menatapku. Mungkin dia bisa melihat kecanggunganku dengan dunia yang sama sekali baru dan sangat asing bagiku. “Santai aja ya, Sayang…” Dia menggenggam tanganku. Aku tersenyum, walau entah bagaimana bentuk senyumku itu.

Musik mulai menghentak. Band ini terdiri dari tujuh personil, tiga diantaranya wanita, yang kesemuanya vokalis, dan seksi-seksi. Mata Abang tak lepas dari vokalis utama. Bagaimana tidak, dia menari diatas meja penonton. Aku rasa dia sudah sedikit mabuk. Dia menyanyikan lagu Rihanna, Don’t Stop The Music.

Long Island pesanan kami sudah datang. Abang menyuruhku mencicipinya sedikit. Pelan-pelan aku menyeruputnya. Aku bergidik. Pahit! Abang tertawa melihat tampang kecutku. Untung saja ada kacang goreng diatas meja, yang memang sengaja disuguhkan waiter untuk menyiasati rasa pahit minuman alkohol. Sementara itu, Abang berjoget dengan si vokalis wanita yang sangat genit itu. Sesekali Abang ikut bernyanyi jika microphone disodorkan padanya. Ingin rasanya aku melempar gelas Long Island itu ke arah mereka, tapi sayang rasanya, karena aku mulai menikmati minuman setan ini. Pandanganku mulai terbelah dua, kepalaku mulai ikut bergoyang tanpa kusadari. Kurasa aku sudah mulai mabuk.

Abang mendekatiku, menarik tanganku, dan mendekatkan mulutnya ke telingaku, “Goyang sama Abang, Sayang.” Aku tersenyum, dan mulai meliuk-liukkan badan. Aku tak tahu dan tak peduli bagaimana goyanganku, yang penting aku sangat menikmatinya. Senyum Abang semakin lebar melihatku bergoyang. Rayuan setannya berhasil membuatku keluar dari dunia putih yang selama ini kujalani. Dia mulai menodainya dengan bercak hitam.

Entah berapa lama kami berada di diskotik itu. Long Island-ku yang segelas itu tak sanggup aku habiskan, hanya setengahnya saja. Pandanganku sudah sangat kabur. Bicaraku pun sudah mulai tak karuan. Saat semua pengunjung sudah mulai berkurang, Abang masih berbincang-bincang dengan teman-temannya yang kesemuanya personil band itu. Aku sudah setengah sadar, duduk di pangkuan Abang sambil merebahkan kepalaku yang sudah sangat berat di bahunya. Ruangan ini sudah berubah menjadi lima di mataku.

Tak sanggup berjalan, Abang menggendongku menuju hard-top merahnya dan segera kembali ke rumahnya. Sesampai di rumahnya pun, Abang menggendongku ke dalam, sampai diatas tempat tidur. Aku masih tahu setelah itu Abang melucutiku dan menikmatiku sepuasnya. Setelah itu, aku sama sekali tak sadar lagi.

Aku terbangun keesokan paginya dengan kepala masih agak berat. Abang masih tidur di sampingku, dengan keadaan tubuh seperti bayi baru lahir, sama seperti keadaanku. Aku bergegas berpakaian seadanya, dan menuju kamar mandi, mengguyur tubuhku mulai dari kepala agar aku benar-benar ‘sadar’. Aku habiskan pagi dengan menonton televisi sambil menunggu Abang bangun. Aku tak berani membangunkannya.

“Sudah sarapan?” tanya Abang setelah akhirnya dia rapi sepertiku.

“Belum.”

“Yuk, keluar.”

Seperti biasa kami menghabiskan perjalanan tanpa suara. Kami tidak langsung sarapan, tapi Abang mengisi bahan bakar mobilnya terlebih dulu. Sambil mengantri, Abang menatapku. “Tadi malam ‘masuk’ atau tidak..?”

Aku terperanjat. Kutatap matanya. “Nggak tahu… Hani bener-bener nggak sadar tadi malam… Memangnya Abang ‘nembak’ dimana?”

“Dalam sepertinya, abang pun lupa… Abang juga tak pakai ‘pengaman’…” Seperti ada palu godam yang menghantam kepala dan hatiku.

“Bang…, nanti kita ke apotik dulu ya…” pintaku.

“Cari apa?”

Test pack…”

(13 Mei – 23 November 2010)

* * *

Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan Riau, Sumut Pos; dan puisinya termuat dalam buku “Rahasia Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010” yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.

 
2 Comments

Posted by on 19 March 2012 in Acara

 

Laporan Acara Peluncuran dan Bedah Buku “Kopi Hujan Pagi, Kumpulan Puisi dan Cerpen Sekolah Menulis Paragraf”

Foto Bareng

Foto Bareng

Setelah berhasil menerbitkan buku “Kopi Hujan Pagi, Kumpulan Puisi dan Cerpen Sekolah Menulis Paragraf”, Sekolah Menulis Paragraf mengadakan Peluncuran dan Bedah Buku “Kopi Hujan Pagi, Kumpulan Puisi dan Cerpen Sekolah Menulis Paragraf” pada hari Minggu tanggal 11 Maret 2012 pukul 13.00 WIB berlokasi di Rumah Komunitas Pucuk Jatuh Taman Budaya Pekanbaru.

Acara tersebut dihadiri oleh beberapa undangan seperti Bapak Al Azhar dari Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji, Bapak Taufik Ikram Jamil, Hasan Aspahani, Kunni Masrohati, Heri Budiman dan teman-teman dari Komunitas Siku Keluang, perwakilan Forum Lingkar Pena, perwakilan Universitas Lancang Kuning, dan banyak undangan lainnya. Sebagai pembicara dalam bedah buku ini adalah Dr. Junaidi, SS, M. Hum, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning Pekanbaru. Sedangkan yang bertindak sebagai pembawa acara sekaligus moderator adalah Delvi Yandra, yang juga merupakan salah seorang penulis muda di tanah air, yang saat ini sedang menyelesaikan studi di Padang.

Pembicara Dr. Junaidi, SS, M. Hum

Pembicara Dr. Junaidi, SS, M. Hum

Dalam pembahasannya, Dr. Junaidi mengatakan bahwa kehadiran buku Kopi Hujan Pagi (KHP) memberi napas baru bagi perkembangan kesusastraan di Riau. Yang paling utama dari buku ini adalah terlihatnya proses pewarisan kreativitas kepengarangan di Riau dari generasi senior ke generasi yang lebih muda. Buku KHP membuktikan sastrawan muda Riau itu aktif, kreatif dan produktif. Mereka mampu menghasilkan karya dan tampaknya mereka percaya bahwa ‘’hidup bila berkarya’’.

Menurutnya lagi, judul buku KHP menarik untuk diinterpretasikan. Ada satu frasa ‘’Kopi Hujan Pagi.’’ Frasa ini terdiri tiga kata: kopi, hujan, dan pagi. Bila dilihat hubungan antara satu kata dengan kata lainnya tampak kurang berkaitan. Ada tiga kata tersusun dalam satu frasa tapi maknanya tidak dengan mudah kita tafsirkan. Kopi dapat ditafsirkan sebagai ketekunan dalam menjalankan kreatifitas penulisan sebab ada kebiasan para penulis untuk mendukung kegiatan penulisan didukung oleh kopi sebagai suplemen agar tak mengantuk sehingga bisa terus menulis. Hujan dapat dimaknai dengan banyaknya gagasan yang dimiliki oleh para penulis yang tergabung dalam buku KHP. Sedang pagi bisa dimaknai spirit untuk melakukan kegiatan penulisan yang dilakukan oleh penulis untuk menghasilkan karya sastra. Spirit ‘’pagi’’ sering diartikan sebagai semangat yang lebih kuat daripada siang atau malam. Dengan demikian, judul buku ini mewakili ketekunan, banyaknya ide dan kuatnya spirit berkreativitas yang dimiliki para penulis yang tergabung dalam KHP.

Moderator Delvi Yandra

Moderator Delvi Yandra

Beliau berpendapat bahwa KHP pantas diberi apresiasi didasarkan beberapa alasan. Pertama, semua penulis yang terdapat dalam buku ini termasuk penulis muda Riau yang lahir sekitar tahun 80-an. Maka penulis-penulis muda ini menurutnya adalah anak-anak muda kreatif, inspiratif dan dedikatif dalam memajukan kreatifitas sastra di Riau. Realitas menunjukkan, tak banyak anak-anak muda Riau yang memiliki kepedulian terhadap sastra. Tapi para penulis dalam KHP dengan energi sastra terus bangkit dan berkarya tanpa keluh kesah yang mengiba-iba dalam komunitas ini.

Kedua, ditengah anggapan bahwa penerbitan buku sastra menjadi kurang hidup di Riau, KHP bisa muncul dengan kekuatan mereka sendiri. Buku ini mereka terbitkan sendiri dan dengan modal sendiri. Pasar buku sastra di Riau belum begitu marak sehingga tak banyak penerbit komersial yang tertarik menerbitkan buku sastra. Kalau mau menerbitkan buku sastra, pengarang harus punya modal sendiri. Kalau ditunggu penyandang dana, apalagi dari pemerintah entah kapan. Bila ada buku sastra yang terbit di Riau, itu adalah proyek idealis atau proyek “thank you’’ untuk memberi kontribusi pada perkembangan sastra Riau. Padahal penerbitan buku sastra di Riau sangat penting sebab ia merekam kreatifitas sastra Riau dan dari rekaman sastra Riau itu dapat dilihat pula semangat zaman yang berkembang di Riau pada suatu masa.

Hasan Aspahani

Hasan Aspahani

Ketiga, KHP menjadi media yang sangat efektif untuk menguatkan diri para penulis bahwa karya mereka memang layak dibukukan. Ada peningkatan kepercayaan diri bagi penulis muda untuk terus menulis setelah karya mereka diterbitkan dalam bentuk buku. Dalam pengantar KHP disampaikan bahwa buku ini ‘’sebagai ijazah, sebuah tanda bahwa mereka telah berhasil menamatkan belajar di Sekolah Menulis Paragraf.’’ Namun Dr. Junaidi berpendapat tidak ada kata tamat dalam menulis. Eloknya, menulis merupakan proses yang terus berlangsung dan tak ada kata tamat. Tamat dalam menulis berarti meninggalkan dunia penulisan dan masuk ke alam kematian. Namun beliau yakin para penulis yang tergabung dalam KHP takkan berhenti menulis setelah terbitnya buku ini, tapi justru mereka akan makin membuktikan kepada dunia bahwa bisa berkarya.

Keempat, adanya anggapan bahwa para penulis yang tergabung dalam Sekolah Menulis Paragraf mendapat perlakuan khusus dalam satu media, sebaiknya tidak terlalu dipedulikan. Lupakanlah pandangan-pandangan sinis yang merusak semangat kreativitas. Teruslah berkarya tanpa harus merendahkan karya orang lain. Jangan buangkan energi untuk berdebat tentang aliran dan urusan suka tak suka terhadap kelompok lain. Lebih baik mencurahkan energi untuk menghasilkan karya sastra yang bermutu daripada menggerutu tak menentu. Bersaing untuk menghasilkan karya jauh lebih penting daripada menaruh pikiran negatif terhadap orang atau kelompok lain. Karya sastra berkaitan erat dengan perasaan, daya kreasi dan pandangan yang bersifat subjektif. Dunia sastra adalah dunia subjektif yang menghasilkan keragaman pandangan, pendapat, respon dan interprestasi. Dengan demikian, ketika memasuki dunia sastra kita harus siap menerima perbedaan tanpa harus menyalahkan orang lain.

Taufik Ikram Jamil

Taufik Ikram Jamil

Dalam sesi tanya jawab, banyak pertanyaan mengenai judul buku dan gambar sampul yang dipilih. Judul buku “Kopi Hujan Pagi” memang sedikit ‘unik’ dan agak membuat kening berkerut. Sementara itu gambar sampul yang merupakan lukisan dari salah seorang pelukis cukup ternama di tanah air itu juga cukup membuat orang berpikir karena gambarnya begitu abstrak. Beberapa penanya seperti Bapak Al Azhar dan Taufik Ikram Jamil menanyakan mengenai “kurikulum”, materi dan cara belajar di Sekolah Menulis Paragraf. Bapak Al Azhar mengungkapkan kekhawatirannya atas kemungkinan adanya perkembangan “mazhab” tertentu yang di Sekolah Menulis Paragraf. Menurut beliau, hal-hal seperti ini harus dihindari. Sementara itu, Taufik Ikram Jamil sedikit mengkritik penggunaan istilah “guru” dan “siswa” dalam komunitas sastra karena sesungguhnya tidak ada yang bisa mengajarkan sastra apalagi puisi kepada orang lain. Semuanya harus berjalan dengan proses pribadi, bukan dari hasil pendiktean.

Hary B. Kori'un

Hary B. Kori'un

 

 

 

 

 

 

Olyrinson

Olyrinson

Budy Utamy

Budy Utamy

Menjawab semua pertanyaan dan kritik yang disampaikan para hadirin, para guru Sekolah Menulis Paragraf yang menghadiri acara ini yaitu Hary B. Kori’un, Olyrinson, dan Budy Utamy menjelaskan proses pembuatan buku KHP, proses kreatif para “siswa”, serta “kurikulum” yang dilaksanakan di Sekolah Menulis Paragraf. Yang pasti dalam pelaksanaannya, Sekolah Menulis Paragraf bermaksud memberikan yang terbaik pada regenerasi sastra Riau. Terlepas dari semua kritik yang disampaikan, acara ini berlangsung cukup lancar. (FFR)

 
Leave a comment

Posted by on 16 March 2012 in Acara

 

Cerpen: Desember yang beku [Riau Pos edisi 8 Januari 2012]

oleh Cikie Wahab

Saat mendarat di Trudeau International Airport, Ink buru-buru menemui Bonita di ruang kedatangan. Perjalanan selama empat puluh dua jam itu membuatnya begitu lelah. Bonita menyambutnya dengan riang. “Welcome!”

Saat mendarat di Trudeau International Airport, Ink buru-buru menemui Bonita di ruang kedatangan. Perjalanan selama empat puluh dua jam itu membuatnya begitu lelah. Bonita menyambutnya dengan riang. “Welcome!”

“Oh, Boni,” Pelukan Ink ketika mendapati Bonita ada di depannya.

“Kau kedinginan? Sudah musim dingin di sini, Ink.” Bonita menyodorkan penutup kepala pada Ink, agar bisa menutupi telinga Ink dari udara. Kemudian mereka berdua naik kereta menuju sebuah tempat di sekitar jalan St. Chaterine St.

Ink memperhatikan salju yang turun pelan dari kaca jendela, ia merekamnya dengan kamera ponsel, juga Bonita. Tapi kemudian ia merasa kedinginan lagi dan hanya duduk mendekap tangannya dengan tenang.

“Mon ami, sebentar lagi kita sampai.” Bonita tahu Ink tidak nyaman dengan pakaiannya yang kurang tebal. Setelah mengalami transit tiga kali, Ink pasti kelelahan.

“Aku tidak menyangka sedingin ini.”

Kereta berhenti. Mereka berjalan kaki menuju sebuah kedai makanan. Boni menarik tangan Ink masuk ke kedai. Beberapa orang tampak menunggu pesanan, dan dari balik meja kasirnya Kriz menggoda Bonita yang membawa seorang pria.

Bonita mengelak dan masuk ke pintu belakang, di sana ada sebuah tangga yang memiliki beberapa kamar. Ruangan kamar berukuran 4×3 meter, namun ruang itu di beri penyekat untuk melindungi tempat tidur dan lemari baju. Di sebelahnya ada Tv kecil dan lemari buku. Bonita melempar sweater tambahan pada Ink.

“Kau mau coklat panas?” tawar Boni. Ink mengangguk dan mengamati kamar kecil yang di sewa Boni selama ia menyelesaikan studi di Montreal.

“Maaf, terlalu kecil, ya? Ini yang paling murah, karena akupun bekerja di kedai bawah. Kau lebih kurus dari fotomu di facebook, sudah lama rasanya kita tak bertemu. Seminarmu hanya empat hari, bukan? Sayang sekali kalian mengambil tema musim salju,” Bonita terkekeh.

“Ya. Maafkan aku, seharusnya aku tidak merepotkanmu dengan menumpang di sini. Aku bisa menyewa hotel saja.”

www.google.com

“Gila! Aku sudah berbaik hati padamu. Mon ami, sahabatku… tinggallah di sini untuk menemaniku.”

Bonita mengulurkan segelas coklat panas dan kue muffin yang ia ambil dari kedai bawah. Ink menerimanya dan Bonita kembali ke bawah untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Tinggal Ink sendiri di kamar itu. Ia hanya mengintip dari kaca jendela yang tertutup rapat, kacanya tampak buram karena salju, tapi ia masih bisa melihat kerumunan orang di seberang jalan. Musim dingin ini mereka tampak bersemangat, lampu-lampu natal sudah terpasang di beberapa toko penjualan.

Ink  ingin turun ke bawah sore itu. Dan ia ingat pesan Boni untuk memakai sepatu boot dan jaket tebal. Ia keluar melewati pintu samping dan berdiri lebih dekat dari kerumunan itu. Ia berada dekat sekali dengan manusia kulit putih yang dulu sempat membuatnya benci.

“Hei! You, Get this!!”

Ink menatap lurus pandangan seorang wanita yang menyapanya. Kulitnya putih kemerah-merahan, rambutnya pirang dan ia kelihatan seperti orang Asia kebanyakan. Wanita itu menjual kerincing, Ink seperti melihat pedagang kaki lima versi lain di sana. Kerincing yang berbunyi dan tampak imut itu berbentuk santa claus, pohon natal dan kartu ucapan natal. Ink menggeleng dan menyadari kini hanya ada ia dan wanita itu.

“Parlez Franchaise or English, Sir?”

“English only,” Jawab Ink sedikit tidak pede dengan kemampuan bahasa ingrisnya, sungguh ia memiliki kosakata yang sangat sedikit dengan bahasa Prancis. “Asia?” Tanya Ink balik.

“Of Course. Indonesia.”

“Ah, kebetulan sekali. Aku dari Indonesia juga.”

“Pardon, sorry… saya tidak memperhatikan dari tadi.” Kali ini wanita itu memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Kemudian ia melanjutkan ucapannya, “Papa saya asli Montreal, Ibu saya juga. Hanya saja nenek yang sangat saya cintai itu berasal dari Jakarta.” Wanita itu memasukkan kembali barang dagangannya ke dalam tas.

Ink mengernyit heran, tapi wanita itu segera memberitahu bahwa ia mencoba mengisi waktu luangnya dengan berbisnis jualan seperti di Jakarta. Tapi tetap saja Montreal itu tidak sama dengan Jakarta, mereka tertawa berdua.

“Kau tinggal dimana?” Tanya Ink

“Dimana saja.”

“Kau pikir ini Indonesia? Kalau di sana kita bisa menumpang dengan aman atau meminta pertolongan. Di sini?”

“Nama saya Resa. Panggil saja Res. Ini kartu nama saya. Saya harus pergi.”

Ink mengangguk dan mengamati Resa yang berjalan menjauhinya. Bumi ini tak lagi seluas yang ia kira, ia bisa bertemu dengan orang yang tidak ia sangka-sangka. Ink mengulang kembali nama wanita itu di bibirnya.

***

Bonita memperhatikan kartu nama yang ada di tangan Ink. Tak biasanya Boni dengan kesal menarik selimut yang ada di atas Ink. Melihat itu, Ink bangkit dan bertanya, namun Boni menatapnya dengan kecewa.

“Kau janji tidak akan dekat dengan siapapun selama seminar. Berhati-hatilah pada siapapun. Aku bertanggung jawab pada ibumu.”

Ink paham, Bonita pasti melihat ia dan wanita itu tadi sore. Bonita terlalu khawatir padanya. “Aku janji, Boni. Selesai Seminar aku akan menemanimu di kedai dan menghabiskan waktu menjelang tahun baru bersama. Lagipula aku ini laki-laki, kau jangan terlalu khawatir begitu padaku.” Ink diam sesudah mengatakannya. Boni pun diam. Selama satu jam mereka diam. Tapi Boni kembali duduk di samping Ink dan menghabiskan sup yang di buatnya tadi.

“Maaf, Ink. Mungkin Januari aku akan pulang.” Ucap Boni ketika Ink memandangnya.

“Itu bagus, ujianmu sudah selesai, kan?”

“Aku..aku dijodohkan, Ink!”

Ink berhenti makan, mengaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal. Boni mengulang perkataannya lagi. Ia tidak bisa menolak keinginan orang tuanya. Baginya orang tuanya lebih dari apapun. Ink menelan ludah dan mengusap kepala Boni.

“Kau menerimanya begitu saja?” Ink melihat Boni menyunggingkan senyum, senyum itu seperti mengatakan. “Kenapa bukan Ink yang melamarnya.” Salju turun lagi dan Ink membiarkan Bonita larut dalam pikirannya sendiri.

Dua hari berikutnya, Ink bertemu dengan wanita penjual kerincing. Ink meneleponnya dan bertemu untuk sekedar berbincang-bincang. Esoknya pun begitu, Ink terhipnotis oleh keramahan Resa.

“Datanglah ke pesta natal di rumahku, ada banyak temanku yang datang.”

“Begitu, ya. Maaf aku tidak bisa.”

“Oh, I know. You’re muslim.” Resa mengambil kesimpulan sendiri yang diikuti anggukan Ink. Tapi Resa tampak tak perduli.  Di musim dingin seperti ini, ia tetap berpenampilan meriah dengan rambut yang di cat merah kecoklatan, eyeshadow dan lipstick pink di bibirnya yang merekah. Ink sedikit tidak nyaman dengan penampilan Resa, kini ia tampak seratus persen orang Kanada di banding orang Indonesia. Tapi Ink sudah terlanjur  dalam pelukan Resa, mereka bercerita dan  makan bersama menjelang senja, hingga Ink lupa ada janji dengan Bonita.

Saat malam tiba, Ink masuk segera ke dalam kamar. Beruntung Boni sedang bekerja di kedai bawah. Ink lega dan bersiap-siap tidur lebih awal.

***

Boni tidak lagi menyiapkan sup atau coklat panas untuk Ink, hingga pagi itu Ink turun ke kedai dan memesan muffin serta kopi. Ia merasa sangat kedinginan dan kehilangan seseorang. Ada apa dengan Bonita? Terkaannya bertambah-tambah. Bonita  diam saja dan lebih dingin dari salju yang membeku. Boni hanya melayani tamu-tamu yang lain kecuali Ink. Beruntung  seminar di Universitas sudah selesai dan Ink butuh waktu untuk menyadari bahwa ia menemui Boni dalam 90% kedatangannya ke Montreal.

Kriz menyuguhkan kopi dan beberapa porsi muffin ke meja Ink. “Excusez moi. Are you okey?”. Ink menggeleng, menunjuk Bonita yang lalu lalang begitu saja. Sebentar mereka bercerita, Kriz kembali ke meja kasir. Ada yang menarik perhatian karena kedatangan seorang wanita di kedai itu. Ink menoleh, hingga kecupan hangat mampir di pipinya.

“Ink! I miss u. Why your phone is not active?”

“Maaf, Resa. Aku sibuk sekali.” Kilah Ink

“Tempat ini tidak tutup? Natal dimana-mana.”

Ink gundah, tiba-tiba ia ingin melihat wajah Bonita, namun sayang ia hanya sempat melihat langkah kaki Boni berlari melewati tangga. Kriz geleng-geleng kepala

“Maaf Resa. Lain kali saja, ya.” Ink menyalami Resa sebentar, diikuti anggukan Kriz yang mengacungkan jempolnya. Ink mengejar Boni ke lantai atas, tak ia pedulikan teriakan Resa yang memanggilnya.

Tak ada yang membukakan pintu ketika Ink mengetuknya. Ink menyesal tergoda kerincing yang ditawarkan Resa. Bonita, mon ami_nya, lebih dari segalanya. Dan ia merasa dingin luar biasa  malam itu. Lonceng natal terdengar dimana-mana. Dan sepuluh menit kemudian Bonita membuka juga pintu kamarnya dan memeluk Ink erat-erat.

“Pulanglah bersamaku, dan kau akan jadi saksi di pernikahanku nanti.” Suara Boni bergetar, lebih kencang dari suara lonceng malam. Ink diam, membalas pelukan Boni lebih erat lagi. Ia menatap jauh pohon natal yang berkelap-kelip dari jendela. Orang-orang memakai baju hangat, namun ia merasa kaku di bulan Desember yang beku itu.***

151211 PKU

Catatan:
*)Mon ami: sahabat (Prancis)
**)Excusez moi:  permisi (Prancis)

Cikie Wahab, Sedang belajar menulis di Sekolah Menulis Paragraf. Beberapa cerpennya dimuat di beberapa media dan antologi bersama. Tinggal di Pekanbaru.

 

http://www.riaupos.co/spesial.php?act=full&id=187&kat=1

 
2 Comments

Posted by on 8 February 2012 in Cerpen

 

Sudah terbit, KOPI HUJAN PAGI (Kumpulan Puisi dan Cerpen Sekolah Menulis Paragraf)

 

Segera terbit, KOPI HUJAN PAGI (Kumpulan Puisi dan Cerpen Sekolah Menulis Paragraf), berikut komentar-komentar:

“Inilah buah dari kebun sastra Sekolah Menulis Paragraf yang khas dengan tema-tema terpilih. Catatan perih catatan bahagia dari Riau, menuju Indonesia. Puisi dan Cerpen dalam buku ini menjadi catatan penting bagi peta kesusastraan Indonesia, dan karenanyalah layak untuk diperhitungkan.” (JONI ARIADINATA, Redaktur Majalah Sastra Horison)

Sebuah komunitas kreatif—seperti Komunitas Paragraf ini—bagi saya ibarat sarang penetasan. Di situ suhu dan kelembaban dipertahankan pada tingkat ideal agar setiap telur tererami dengan baik. Harapannya adalah sebagian besar telur ‘bakat’ itu menetas, dan menjadi penulis yang mengembangkan keunggulan masing-masing. Sebuah buku karya bersama adalah tanda awal, seperti retak pada dinding cangkang masing-masing telur bakat itu. (HASAN ASPAHANI, sastrawan, Pemimpin Redaksi Batam Pos)

Suatu kali, saya pernah singgah di Sekolah Menulis Paragraf di gerai Ibrahim Sattah, berbincang-bincang tentang sastra dan dunia kepenulisan. Yang membanggakan, pesertanya dari berbagai kalangan, mulai dari perawat, dosen, pengusaha, siswa, sampai mahasiswa dan orang awam. Kehadiran Sekolah Menulis Paragraf yang diprakarsai oleh Marhalim Zaini dan kawan-kawannya ini terbukti mampu memupuk dan mengajuk resa kepenulisan di tanah Melayu. Dari sini, telah lahir beberapa penulis handal. Semangat ini seharusnya mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Semoga Sekolah Menulis Paragraf menjadi taman bagi para penulis. (MUSA ISMAIL, sastrawan, Komunitas Cahaya Pena Bengkalis)

Empat belas penulis cerpen dan puisi berusia belia dalam antologi Kopi Hujan Pagi, telah menyuguhkan secangkir kopi yang memuaskan. Para penulis yang tergabung dalam Sekolah Menulis Paragraf Riau ini, membuktikan bahwa sebuah komunitas sastra berdayaguna bagi pengenalan dan pengembangan seseorang kepada penulisan kreatif. Karya-karya yang terhimpun dalam Kopi Hujan Pagi menyuguhkan kehangatan, dan diharapkan menginspirasi remaja lain untuk bersama-sama “duduk (bersila)” menikmati secangkir puisi (bukan lagi kopi), demi mencerahkan. (ISBEDY STIAWAN ZS, sastrawan, Lampung)

Ada semangat lain ketika berada dalam sebuah komunitas. Gairah yang dengan sendirinya memicu keinginan untuk saling berpacu. Meski terkadang komunitas sering menjebak penghuninya dalam keseragaman, akan tetapi diskusi-diskusi dan keberbedaan pendapat pada akhirnya akan melepaskan seseorang untuk menuju gaya masing-masing. Dalam antologi “Kopi Hujan Pagi” para penghuni Sekolah Menulis Paragraf berhasil keluar dari jebakan keseragaman tersebut. Karya-karya mereka hadir mewakili diri sendiri. Sebagaimana baiknya, komunitas hanya menjadi payung. Tujuan paling akhir tetapn tergantung kepada masing-masing yang berada di dalamnya. Selamat! (IYUT FITRA, sastrawan, Komunitas Seni Intro Payakumbuh)

Kreativitas tak pernah mati di negeri Sahibul Kitab, Riau. Buku antologi “Kopi Hujan Pagi” yang memuat karya penulis generasi baru ini menjadi saksi dan bukti. Beragam tema dan pola dalam karya mereka, memperlihatkan upaya pencarian identitas sekaligus menggali kedalaman nilai yang mereka geluti masing-masing, terutama nilai ‘lokal’ yang dapat mengangkat kebesaran negeri ini yang telah mewariskan tradisi sastra yang kuat. (FAKHRUNNAS MA JABBAR, Sastrawan, Riau)

 
1 Comment

Posted by on 8 February 2012 in Referensi buku

 

Galeri Ibrahim Sattah: Seni yang rapuh*

Kami yang telah menjadi bagian dari tempat ini…

“Aku lewat kemarin disitu Febb... Mrembes milih juga liat persiapan2 meruntuhkannya. Kenangan kita disitu semua.. Termasuk kenanganku brsm klrg waktu msh rajin nganterin dulu... Dan almarhum Ali Musa... Betapa kita memulainya dengan penuh semangat dan harapan. Angkatan ke dua yang tiada duanya.” (Puan Seruni)

“Di bus dalam perjalanan pulang, tak terasa air mataku mengalir begitu saja. Entah apa yang ada di pikiranku. Tiba-tiba saja aku menangis mengingat Galeri IS. Aku teringat lapangan berlumutnya yang digenangi air, aku mengingat lantai papannya... yang dilapisi tikar pandan, dan aku mengingat kenangan yang bersusun di dalamnya. Diantara jejeran buku dan bingkai-bingkai tua yang menggantung di dindingnya. Kembali kubaca pesan singkat pak Kepsek, "Kita harus berani berubah, meski kadang dengan cara yang menyedihkan." Paragraf akan tetap ada asalkan kita terus bersama.” (Nurhusni Kamil)

“Di sana telah tumbuh cinta, sangka dan percikan air mata. Di sana kita belajar tentang perbedaaan, kesepakatan, dan meretas jalan menuju mimpi. Walau mereka mampu membongkar bangunannya tapi mereka tak bisa membunuh kenangan kita. Langit telah merekam dan hati kita telah mematri. Di sana aku belajar untuk cemburu, memburu dan berbagi. Karena pesona Paragraf dan teduhnya Galeri ibrahim Sattah, serta keramahan Pak Oly Rinson, Pak Hary B Koriun, Bang Marhalim Zaini dan Kak Budy Utamy, kita pernah kabur dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat kerja kita masing2. Tapi kita tidak pernah rugi bukan?!” (Zurnila Emhar Ch)

“Tahun 2010 yg penuh semangat, 2011 yg penuh sandungan… Namun semua takkan lekang oleh waktu. Meski tempat itu takkan lagi menjadi tempat kita berbagi karya, rasa, dan cinta, namun semangat yg telah terbangun dari sana akan lekat selamanya di hati kita. Galeri Ibrahim Sattah boleh dipugar, namun semangat kita utk berkarya takkan pernah pudar. Paragraf akan tetap ada, meski bangunan tempat kita berteduh telah tiada. Ingat saja pesan Bang Marhalim Zaini, “Di bawah langit, dimana saja, adalah tempat kita belajar.” Adios Galeri!” (Febby Fortinella Rusmoyo)

“Koleksi bukunya, tikar pandan, meja kayu yang begitu akrab setiap minggu. Dan rindu berkumpul di sana, dengan teman-teman paragraf :D” (Guri Ridola)

“Dawson pernah mengatakan, “happy is the people without history” (berbahagialah orang yang tidak mempunyai sejarah). Dan kini aku mengerti dengan itu, bahwa waktu terus saja mengkhianati langkahnya. Satu hal yang selalu aku bawa di hari minggu, yaitu keberangkatan pulang ke galeri Ibrahim Sattah. Aku selalu berpikir, jika tidak ke sana, maka kemana lagi aku harus pulang. Guru-guru selalu berpesan untuk menjaga rumah. Aku selalu ingat membuka jendela ketika hendak memulai diskusi, menyusun buku-buku di rak adalah dia, seorang pendaki cerita. Atau yang suka duduk di balik pintu. Lucu memang, di meja yang dipenuhi jajaran buku, yang memiliki pembatas sebatang kayu utuh, besar sekali (aku sering bertanya-tanya apa kegunaan kayu itu berada di sana). Dan beberapa merpati di halaman. Mereka akan kemana setelah ini? Seperti sejarah, telah memilih ceritanya sendiri.” (Refila Yusra)

“Galeri Ibrahim Sattah; tempat di mana bisa baca buku-buku sastra dengan gratis, tempat pengukir kreatifitas para sastrawan. Kalau dipugar bagus juga, jadi andai dijadikan mall atau hal semacamnya; minta ruangan untuk menempatkan buku-buku sastra sekarang dan tempat diskusi (harus gratis).  Pemerintah mengiklankan adanya ruangan tersebut. Adanya tempat kreatifitas masyarakat dalam gedung tersebut. Jika tidak dipenuhi, jangan salahkan jika mall atau apapun itu akan dijadikan ajang kreatifitas (dicat, grafiti, perform puisi, dll)”

“Galeri Ibrahim Sattah; tempat di mana bisa baca buku-buku sastra dengan gratis, tempat pengukir kreatifitas para sastrawan. Kalau dipugar bagus juga, jadi andai dijadikan mall atau hal semacamnya; minta ruangan untuk menempatkan buku-buku sastra sekarang dan tempat diskusi (harus gratis). Pemerintah mengiklankan adanya ruangan tersebut. Adanya tempat kreatifitas masyarakat dalam gedung tersebut. Jika tidak dipenuhi, jangan salahkan jika mall atau apapun itu akan dijadikan ajang kreatifitas (dicat, grafiti, perform puisi, dll)” - (Agus Yoni)

“O, sattah. Apa yang kaurisaukan atas penjelmaan rumahmu jadi pasar malam, usai kautulis puisi-puisi di tubuhku jadi mantra pengusir hantu. O, sattah. Serisau dirimu adalah aku. Galeri ibrahim sattah serupa rumah, tempat bercengkrama dan berbagi tentang proses hidup, ber(a)k(rea)tivitas. Pertanyaan sekarang, sampai dimana kita mendedikasikan diri pada proses berkreativitas? Tabik.” (Maymun Nasution)

“Buku itu pintuku. Guru-guru jendelaku. Teman-teman ventilasiku, di mana angin bisa keluar masuk mengisi hawa rumahku. Ibrahim sattah... jeda melepas lelah di sore minggu.” (Afriyanti)

“ Tak menyangka minggu itu adalah minggu terakhir menginjakkan kaki di galeri. Aku hanya bisa terdiam, menerima kenyataan dan teringat rindu yang mungkin tak pernah akan terpautkan pada; lantai kayu yang dingin dengan tikar pandannya (yang penuh dengan jejak langkah kita), pada potret-potret sastrawan lama yang berjejer rapi di sepanjang jendela samping, pada buku-buku yang bukan sembarangan buku, pada deretan angklung yang hanya kutemukan berada di sana, pada peringatan yang terpajang di sana bahwa "kejahatan terhadap buku adalah dengan tidak membacanya", pada suara-suara kita yang menjelma jadi puisi, dan kini hanya kesenyapan yang memenuhi ruang itu. Tempat itu mengenalkanku pada kuatnya suatu ikatan dan hubungan pertemanan yang sangat tulus selain sastra yang akan selalu menjadi harta berharga. Terima kasih telah pernah menjadi bagian dari perjalanan kami. Kami tak akan runtuh dan berderai, kami akan meneruskan segala yang telah kami tuai di tempat itu. Mereka bisa membawa apa saja yang ada di sana, tapi tidak dengan kenangan. Bukankah kenangan akan selalu sama walau kita berada di tempat yang berbeda?” (Jeni Fitriasha)

“Galeri Ibrahim Sattah merupakan gudang ilmu. Bahkan dia mampu memberikan perlindungan bagi komunitas2 sastra yg ada di Riau. Memberikan tempat di bawah langit untuk selalu berkarya hingga akhir hayat.” (Wari Rahmawati)

“Tak ada kesiapan apa-apa ketika berhadapan dengan tiga orang “penyidik”. Aku ingat senyum Bang Alim, seloroh pak Oly dan panggilan kak Uut yang menyapaku dengan Cikiecitoz. Dengan 8 orang yang berambisius sama, aku merelakan minggu-minggu di temani para tutor. Pun ketika pak Hary menyapa kami dengan kereta expressnya agar bisa nangkring di koran lokal. Di sudut ruangan itu pula, seseorang kerap mengantarku datang. Ia bilang tak apa-apa tak jalan bersama, asal aku tak kecantol pengajar (-__-). Ah, seseorang yang juga dijadikan bahan gosip bersama, dan hingga kini bertemu banyak penggila seni yang sama-sama saling mengisi. aku, kau dan kita semua.” (Cikie Wahab)

“Rindu kumpul-kumpul dan diskusi bareng.” (Mamad Hidayat)

“Bagiku galeri adalah sebuah rindu yang selalu membuatku menunggu, apakah waktu tak lagi menjadi tamu bagi kita untuk saling bertemu.” (Cahaya Buah Hati)

Kami yang sempat singgah di tempat ini…

“Saya pernah menjadi bagian dari sejarah tempat ini. Saya rindu lantai kayunya. Interior dalam yang membuat saya nostalgia akan rumah lama yang sederhana, originalitas dan kuat dengan karakternya. Semua itu bagai sastra lama indonesia, yang alami dan klasik. Berada di pusatnya, rumah itu menginspirasi.” (Ananda Nazief-Bing)

 “Saya sedih... padahal kalau ke Pekanbaru cuma niatnya pengen ke sana.”  [Delvi Yandra]

“Saya sedih... padahal kalau ke Pekanbaru cuma niatnya pengen ke sana.” (Delvi Yandra)

 

"Pertamakali menginjakkan kaki ke Galeri Ibrahim Sattah, saya berpikir tidak ada rumah sebaik ini. Rumah yang membuat saya percaya bahwa menulis puisi adalah hargamati bagi orang seperti saya yang minim pengetahuan tentang sastra. Di rumah itu, saya bisa tertawa dengan sebenarnya tertawa, dan sekaligus mampu membuat saya mendefenisikan apa sesungguhnya itu puisi (meski pun saya tak pandai menulis dengan baik, sebaik rekan rekan di rumah itu). Saya bukan penyair, tapi puisi mampu membuat saya mengerti apa itu hukum kasih, cinta, dan rindu juga makna berbagi tanpa harus meminta kembali walau hanya dengan ucapan terimakasih. Galeri Ibrahim Sattah, rumah yang baik, berisikan sahabat2 yang unik dengan talenta2 yg dapat menggeletik wilayah peka manusia. Terimakasih kpd seseorang yang saya kagumi dengan sajak panjangnya (Marhalim Zaini) walau belum sempat berbagi tawa dengan beliau. Kakakku Budy Utamy yang paling indah dalam bersyair dalam bait bait hujannya juga Guru 20 menit Oly Rison yang terang terangan menegasi bahwa puisi adalah nyanyian yang disenandungkan dalam diri tanpa harus mencederai diri sendiri. Galeri Ibrahim Sattah, disitu putik cintaku pada sajak semakin berbunga, disitu pula aku tahu arti ada atau tiada. Mau jadi apa pun Rumah itu nanti, yang aku tahu darisana adalah cinta yang pasti dan cinta yang tak dapat dibeli." (Anju Zasdar)

 Kami yang mengabdi…

( Hary B. Koriun)

(Oly Rinson)

(Budy Utami)

"Kita harus berani berubah, meski kadang dengan cara yang menyedihkan. Paragraf akan tetap ada asalkan kita terus bersama. Di bawah langit, dimana saja, adalah tempat kita belajar.” (Marhalim Zaini)

Adios Galeri...

Adios Galeri...

*judul lagu Sindentosca

 
2 Comments

Posted by on 2 February 2012 in Acara

 

“Kepadamu: Penjual Luka” (Cerpen Nurhusni Kamil di Riau Pos Ahad, 20 November 2011)

Kau memberiku semangkok luka. Katamu untuk makan nanti, padahal hari masih pagi. Tetapi kuterima juga, tak ingin melihatmu kecewa. Apalagi aku sudah berjanji tidak akan membuat orang lain kecewa. Maka kuterima pemberianmu, secangkir luka itu.

“Kalau begitu aku pulang dulu,” ucapku buru-buru membawa secangkir luka pemberianmu. Aku harus segera membawa pulang luka itu, meskipun masih terlalu pagi untuk makan luka. Tapi aku harus memasaknya. Di rumah sudah ada sepanci air mata untuk merebusnya.

Ternyata tak semudah yang kupikirkan membawa luka. Bertadah rasa yang kecil, kekhawatiran akan tumpah sangat menggelisahkanku. Apalagi jalan pulang ke rumah tidaklah mudah, setelah jalan beraspal ini aku juga harus melewati jalan curam di tikungan sana, kemudian sawah dan sungai, sebelum sampai di rumah. Tapi aku juga harus melewati rumah-rumah warga, yang apabila mereka tahu aku membawa semangkok luka, mereka semua akan heboh. Menyebar gosip sana-sini. Apalagi jika mereka tahu kaulah yang memberi luka itu. Ya, kau. Damar si penjual luka.

Semua warga kampung ini sudah tahu. Hanya kaulah satu-satunya penjual luka di kampung ini. Kau yang berjiwa pedagang begitu pandai membujuk rayu agar orang-orang mau membeli luka yang kau jual. Dengan lidah yang tak bertulang, begitu pandai kau bolak-balik kata dalam mulutmu. Hingga banyak yang mau membelinya.

“Eh, Bu Ijah. Dari mana, Bu?”

“Iya, Bu Nani. Dari rumah Pak Damar,” jawabku berusaha menutupi luka pemberianmu.

“Ibu membeli luka darinya?”

“Ehm. Mmm, tidak. Kebetulan ada perlu saja,” jawabku berusaha menyembunyikan luka yang kusimpan di balik bajuku. Lalu buru-buru aku melangkah melanjutkan perjalanan pulang. Tak kuhiraukan lagi celoteh bu Nani di belakang.

Aku ingin cepat-cepat sampai di rumah dan memasak luka ini. Aku tak ingin luka ini basi dan kemudian membusuk dalam tadah hatiku. Sebab jika sudah membusuk, belatung sangat cepat menghinggapi menggeliat dendam yang menghitam. Lagi pula Imah, anakku,  pasti sudah sangat lapar.

“Ibu memasak luka lagi?”

“Iya, Nak. Itu yang diberikan bapakmu tadi.”

“Tapi aku sudah bosan, Bu. Tiap hari hanya makan luka.”

“Baiklah, besok Ibu tidak akan memasak luka lagi. Sekarang makanlah dulu. Kalau tidak, kamu akan sakit.”

Anakku sudah bosan makan luka. Aku kasihan padanya. Dari kecil dia selalu kau beri makan luka.

“Jadi harus bagaimana lagi. Hanya itu yang kupunya.” Selalu begitu jawabmu bila kuceritakan tentang Imah. Bagiku tidak apa jika hanya luka yang bisa kau berikan untuk kumakan, tapi aku tak pernah tega melihat anak kita Imah yang sudah semakin kurus, tak mau makan. Katanya dia sudah sangat bosan dengan masakan yang itu-itu saja, luka yang direbus dengan air mata.

Tapi aku bisa apa. Aku yang terlanjur menyukaimu, telah menyerahkan kesucianku padamu. Sekalipun aku sudah tahu bahwa kau adalah penjual luka. Tetapi karena pandainya kau membolak-balik kata, aku malah jatuh cinta. Kau telah banyak menjual luka di kampung ini. Telah banyak pula anak-anak yang tumbuh dari lukamu. Itu karena dulunya ibu-ibu mereka sama sepertiku, terpedaya dengan kata-katamu dan kemudian menyerahkan kesucian mereka untuk kau makan.

“Ibu, hari ini kita makan apa? Apakah ibu akan memasak luka lagi?”

“Tidak, Nak. Hari ini kita akan makan hati. Ibu akan ke pasar membeli hati.”

“Benarkah?! Ibu janji ya…”

Rupanya Imah benar-benar sudah bosan makan luka. Dia terlihat sangat bahagia. Tubuh kecilnya yang sangat kurus itu melonjak-lonjak kegirangan. Mata cekungnya bersinar. Baru kali ini aku melihat dia sebahagia itu. Dia memelukku sangat erat. Aku benar-benar merasakan kebahagiaannya. Aku bahagia.

“Imah tunggu di rumah ya. Ibu ke pasar.”

“Cepat pulang ya, Bu.”

“Ya.”

Aku bergegas melangkah meninggalkan rumah. Dengan karung perasaan yang kusut masai kususuri jalan batu dan sungai. Aku sendiri tidak tahu dengan apa harus kubeli hati untuk Imah. Sementara aku sendiri tak punya uang dan tak pernah memegang uang sebab kau tak pernah memberiku uang.

Sepanjang jalan pikiranku berkecamuk memikirkan bagaiman agar aku dapat membawa hati pulang untuk anak kita, Imah. Tak kuhiraukan teriakan dan celoteh ibu-ibu di sepanjang  jalan. Peduli apa aku pada mereka.

“Ini. Bawalah luka ini untuk dimasak nanti,” ucapmu menyodorkan semangkok luka padaku seperti biasa.

“Tapi Imah sudah tidak mau lagi makan luka. Dia ingin makan hati.”

“Apa? Makan hati?”

“Iya. Hati.”

“Kamu kan tahu hati itu mahal. Kita tidak akan sanggup membelinya. Apalagi sekarang sudah sangat jarang orang yang menjual hati. Sudahlah, lupakan saja ucapannya itu.”

“Tapi aku tidak tega. Dia sudah semakin kurus. Setiap hari hanya memberi makan luka padanya.”

“Mau bagaimana lagi. Hanya itu yang kita punya.”

Ya, memang hanya luka yang kau punya untuk memberi makan kami. Tak pernah sekalipun kau beri hati atau makanan lain selain luka. Kupikir kau akan memberiku uang untuk membeli hati. Padahal baru sekali ini aku meminta padamu. Setelah bertahun-tahun aku melahirkan anak darimu, baru kali ini aku punya permintaan. Kamu memang keterlaluan. Kau tetap memaksaku membawa luka itu pulang untuk dimasak. Ingin aku menolaknya, tapi bumbu-bumbu kata yang kau giling sempurna dengan lidahmu, wangi melenakanku.

Akhirnya kuterima juga luka itu darimu. Tapi aku tidak mau membawanya pulang, sebab aku sudah berjanji akan memasak hati untuk Imah kali ini. Dia sedang sakit. Badannya sudah sangat kurus. Aku ingin melihatnya makan banyak. Maka kuputuskan untuk menjual luka  itu di pasar. Berharap ada yang membelinya dan kemudian uang itu kubelikan hati untuk Imah.

Tapi hingga sore mengambang tak satupun orang yang mau membelinya. Karena aku tak sepandaimu membumbuai kata. Aku masih berkeliling-keliling di tengah pasar yang mulai sepi mencari pembeli luka. Sesekali kucium aromanya, khawatir jika basi dan membusuk nantinya. Hingga hari beranjak gelap dan bau luka yang kian membusuk, tetap tak satupun yang menawar lukaku. Aku mulai resah.

Terbayang olehku Imah yang terbaring sakit di rumah menungguku pulang membawa hati. Air mataku mengalir. Luka di tanganku semakin membusuk. Kuusap air mataku. Aku harus kuat. Imah membutuhkanku. Lalu berbalik aku ke rumahmu dengan membawa luka yang telah digerogoti belatung. Kulihat kau tengah asyik menyayat-nyayat luka baru untuk di jual besok.

“Damar..”

“Ijah. Kamu belum pulang? Lihatlah luka itu, sudah busuk. Biar kuganti saja dengan yang baru.”

Aku menyerahkan luka busuk itu. Damar masuk ke dalam mengambil gantinya. Dengan senyum yang masih semenawan dahulu dia meyerahkan luka baru padaku. Aku tak sanggup menahan air mataku. Secepat kilat tanganku menghujamkan pisau ke dadanya. Damar terpaku. “Ijah…” ucapnya, kemudian diam. Membiarkanku melubangi dada dan memotong hatinya untuk Imah.***

* * *
Nurhusni Kamil
adalah peminat sastra. Sedang belajar menulis di Sekolah Menulis Paragraf.  Tinggal di Pekanbaru.

 
1 Comment

Posted by on 21 November 2011 in Cerpen

 

Marhalim Zaini, Seniman/Budayawan Pilihan Sagang 2011 : “Menulis, Pilihan Hidup Saya”

Marhalim Zaini

Marhalim Zaini di Malam Anugerah Sagang 2011

Segudang karya, menerbitkan buku-buku tunggal juga antologi, menulis puisi, cerpen, esai, resensi, naskah drama hingga cerita bersambung sudah dihasilkannya.

Dia adalah Marhalim Zaini yang tahun ini dinobatkan sebagai Seniman/Budayawan Pilihan Sagang 2011.Tak salah kalau Yayasan Sagang menetapkan Marhalim Zaini sebagai Seniman/Budaya Pilihan Sagang 2011. Dia banyak melahirkan karya-karya yang sudah tak asing lagi di tengah masyarakat Riau umumnya dan tentunya kalangan, sastrawan, seniman dan budayawan. Karya-karya yang dihasilkan itu kental dengan budaya Melayu.

Pria bernama lengkap SPN Marhalim Zaini SSn ini, lahir di Teluk Pambang Bengkalis, Riau pada 15 Januari 1976. Semula, dia tinggal di Parit I Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Begkalis. Namun kemudian pindah ke Perumahan Gading Marpoyan, Jalan Ar-Rozzaq Nomor 06, Siak Hulu, Kampar.

Marhalim banyak beraktivitas di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) Komplek Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai). Suami Titin Kasmila Dewi SAg SH ini telah memiliki dua anak, yakni Dara Asia Nashwa Aliela dan Attar Muda Malaka.
Pendidikan formal yang ditempuhnya adalah SD Teluk Pambang Bengkalis 1981, Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Masmur Pekanbaru 1987, Madrasah Aliyah Negeri (MAN 1) Pekanbaru 1991, S1 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang 1995 namun gagal diselesaikannya.

Lalu, ia melanjutkan kuliah S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta 1998-2004 dan S2 Antropologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak 2010 sampai sekarang.

Sosok anak jati Riau ini juga memiliki pengalaman jurnalistik sebagai staf redaksi tabloid Shoutul Jamiah IAIN Imam Bonjol Padang 1997, koresponden tabloid Fajar Padang 1997, Wakil Pemimpin Redaksi tabloid Taferil ISI Jogjakarta 2000, Pemimpin Redaksi jurnal Teater Stambul Jogjakarta 2003, Pemimpin Redaksi majalah Seni Berdaulat 2005, Penanggung Jawab jurnal Teater Lakon, jurusan Teater AKMR 2009, Pemimpin Redaksi majalah budaya Tamaddun (Taman Budaya Riau) 2010. ‘’Menulis, pilihan hidup saya,’’ ucap Marhalim Zaini yang dihubungi Riau Pos, Senin (24/10).

Ketika menulis sudah jadi pilihan hidup, dia harus bisa menempatkan dirinya untuk masuk ‘kantor’ di sebuah ruangan di rumahnya.

Karena dengan itu, akan bisa melahirkan karya-karya seperti saat ini.

Sebelum membuat buku, dia lebih dulu melahirkan karya puisi yang berjudul ‘’Hujan Tiris’’ yang ditulisnya kali pertama pada 1995 silam.

Meski sudah banyak melahirkan karya tulis, buku, cerpen, esai, resensi, teater dan lainnya, Marhalim tetap saja merendah.

Dia menyebutkan, sebelum meraih Anugerah Sagang sebagai Seniman/Budayawan Pilihan, dia sudah mengantre sejak lima tahun lamanya.

‘’Lima tahun itu, saya masuk nominator. Tapi belum menang. Baru sekarang ini menang,’’ ujarnya.

Pilihan yang dijatuhkan padanya, adalah suatu apresiasi yang memiliki kebahagiaan tersendiri. ‘’Ini sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang seniman,’’ ucapnya.

Anugerah Sagang, menurutnya, adalah wadah yang konsisten selama ini untuk memberi apresiasi, penghargaan pada karya-karya seniman di Riau dan Tanah Air yang kini sudah mencapai 16 kali.

Dan itu sebagai bentuk penghargaan pada kalangan seniman, budayawan akan karya-karya mereka yang dilahirkan.

Sedikitnya, sudah sepuluh buku tunggal karya Marhalim yang telah terbit.

Di antaranya, Segantang Bintang Sepasang Bulan (kumpulan sajak, Yayasan Pusaka Riau 2003), Di Bawah Payung Tragedi (kumpulan naskah drama, AKMR Press, 2003), Langgam Negeri Puisi (kumpulan sajak, Dewan Kesenian Bengkalis dan Interbud Jogjakarta, 2004).

Juga Tubuh Teater (kumpulan esai teater, Dewan Kesenian Bengkalis dan Interbud Jogjakarta, 2004), Getah Bunga Rimba (novel, Gurindam Press, 2006) Hikayat Kampung Mati (novel, Penerbit Adicita Jogjakarta, 2007 yang sebelumnya pernah diterbitkan secara bersambung di Riau Pos).

Selanjutnya, Amuk Tun Teja (kumpulan cerpen, Paragraf dan Akar Indoesia, 2007), Megalomania (novel, Gurindam Press, 2008), Pangeran Terubuk (kumpulan drama, Yayasan Pusaka Riau, 2009), Tun Amoy’ (novel, Gurindam Press, 2009, dimuat bersambung di harian Republika).

Sementara karya buku antologi bersama yang sudah dilahirkannya, sekurang-kurangnya ada 28 buah. Yakni Batarak (kumpulan puisi, UKM Teater Imam Bonjol Padang, 2000), Embun Tajalli (kumpulan puisi dan cerpen, FKY XII, Yayasan Aksara, 2000), Anugerah Sagang 2000 (kumpulan puisi, Yayasan Sagang Riau Pos, 2000), Filantropi (kumpulan puisi, FKY XIII, Yayasan Aksara, 2001), Hijau Kelon dan Puisi 2002 (kumpulan puisi, Penerbit Buku Kompas, 2002), Dian Sastro for President (kumpulan puisi, AKY, Bentang, 2002), Magi dari Timur (kumpulan cerpen, Yayasan Sagang, 2003), Pertemuan dalam Pipa (kumpulan cerpen, Dewan Kesenian Jakarta dan Logung Pustaka, 2004), Satu Abad Cerpen Riau (Yayasan Sagang, 2004) dan Seikat Dongeng tentang Wanita (kumpulan cerpen, Yayasan Sagang, 2004).

Lalu Rembulan Tengah Hari (kumpulan cerpen, DKR dan Yayasan Sagang, 2004), Maha Duka Aceh (kumpulan puisi, PDS HB Jassin, 2005), Living Together (kumpulan puisi dan cerpen dwibahasa, Utan Kayu Jakarta, 2005), Tafsir Luka (kumpulan puisi, Yayasan Sagang, 2005), Jalan Pulang (kumpulan cerpen, Yayasan Sagang, 2006), Loktong (kumpulan cerpen, CWI Jakarta, 2007), Tongue In Your Ear (kumpulan puisi 30 penyair Indonesia, Festival Kesenian Jogjakarta, 2007), Selat Melaka (kumpulan puisi Pekanbaru dan Johor, UIR Press dan BKKI, 2007), Krisis Sastra Riau (kumpulan esai, Yayasan Sagang, 2007), Komposisi Sunyi (kumpulan puisi, Yayasan Sagang, 2007).

Juga 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 (Gramedia Pustaka Utama, 2008), Tanah Pilih (kumpulan puisi Temu Sastrawan Indonesia I, Jambi, 7-11 Juli 2008), Tamsil Syair Api (kumpulan puisi pilihan Riau Pos, Yayasan Sagang, 2008), Antologia De Poeticas (kumpulan puisi dwibahasa, Indonesia, Portugal, Malaysia, Gramedia Pustaka Utama, 2008), 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 (Gramedia Pustaka Utama, 2009), Sastra, Jati Diri, dan Kemiskinan Kreatif (esai pilihan Riau Pos 2010, Yayasan Sagang), Fragmen Waktu (sajak pilihan Riau Pos 2010, Yayasan Sagang), Perayaan Kematian Liu Sie (sekumpulan cerita lokal, Tikar Publishing Jogja, 2010).

Selanjutnya karya puisi, cerpen, esai, resensi, naskah drama, cerita bersambung yang ditulisnya, sudah pernah diterbitkan di sejumlah media massa di Tanah Air.

Di Jakarta sendiri, karyanya sudah pernah diterbitkan di Kompas, Horison, Media Indonesia, Koran Tempo, Jurnal Puisi, Republika dan Seputar Indonesia.

Di Riau juga sudah pernah diterbitkan Riau Pos, Riau Mandiri, majalah Sagang, majalah Berdaulat, majalah Tepak, Riau Tribune. Di Padang di Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, tabloid Fajar dan Padang Ekspres.

Di Jogja, dimuat di Yogya Pos, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Gelanggang Rakyat, majalah Bakti, majalah Kuntum, Koran Malioboro, On Off dan Koran Merapi. Di Solo yakni Solopos dan Pos Kita. Di Surabaya dimuat di Jawa Pos, Surabaya Post, Mimbar.

Semarang, Suara Merdeka, Bali, Bali Post. Bandung di media Pikiran Rakyat. Lampung, Lampung Post serta Belanda kerja sama dengan Kalam: Prince Claus Fund Journal 2006. Dia juga telah mengantongi banyak penghargaan.

Tahun 1999, sajak ‘’Madah Seorang Bocah’’ dapat penghargaan dari Rektor ISI Jogjakarta dan DPD BSMI DIY. Tahun 2001, sajak ‘’Rel Santo Thomas’’ dan ‘’Jembatan Mati Itu, Otto’’, memenangkan lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-DIY.

Tahun 2001, sajak ‘’Bersiul di Perkampungan Bangkai’’ memenangkan Sayembara Sastra Dewan Kesenian Riau. Tahun 2002, sajak ‘’Segantang Bintang, Sepasang Bulan’’ meraih Juara I Lomba Cipta Puisi majalah Sagang. Tahun 2002, sajak ‘’Gumam Teluk Pambang (3)’’ juara II Sayembara Sastra Dewan Kesenian Riau. Tahun 2002, cerpen ‘’Malam Lebaran di Pelabuhan’’ juara II Sayembara Sastra Dewan Kesenian Riau.

Tahun 2003, cerpen ‘’Kopi Senja di Negeri Siti’’ juara I sayembara Menulis Sastra dan dapat ‘’Hadiah Tepak’’ dari majalah budaya Tepak. Tahun 2003, cerpennya ‘’Lelaki Kuli dan Perempuan yang Pandai Menyimpan Api’’ juara II Sayembara Sastra Dewan Kesenian Riau. Tahun 2003, buku kumpulan sajak Segantang Bintang Sepasang Bulan terpilih sebagai satu dari lima nominasi KSI Award, Jakarta.

Tahun 2004, cerpen ‘’Temui Aku Hari Jumat’’, ‘’Di Belakang Kelenteng Tua’’, juara I Laman Cipta Sastra DKR. Tahun 2004, sajak ‘’Subuh yang Lumpuh’’, juara III Laman Cipta Sastra DKR.

Tahun 2004, Esai Sastra Riau dalam ‘’Risau Sejarah’’, juara I Laman Cipta Sastra DKR. Tahun 2004, naskah ‘’Lakon Api Semenanjung’’, juara III Laman Cipta Sastra DKR. Tahun 2004, buku puisinya Langgam Negeri Puisi terpilih nominasi Anugerah Sagang 2004.

Tahun 2005, puisi ‘’Lesung Batu, Lesung Kayu’’ Juara II Laman Cipta Sastra DKR. Tahun 2005, naskah drama ‘’Pangeran Terubuk’’ juara III Laman Cipta Sastra DKR. Tahun 2005, cerpen ‘’Jangan Menyebut Dua Frasa Itu’’ juara II (tingkat Nasional) Laman Cipta Sastra DKR.

Tahun 2005, novel Jangan Biarkan Lara Menangis meraih Pemenang Penghargaan I Sayembara Penulisan Novel Dar Mizan (tingkat nasional). Tahun 2005, skenario film ‘’Dongeng Negeri Siti’’ meraih 10 Naskah Pilihan dalam Sayembara Penulisan Skenario Film Cerita Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Dirjen Perfilman Indonesia, 2005.

Tahun 2005, menerima Anugerah Seni dari Dewan Kesenian Riau sebagai Seniman Pemangku Negeri (SPN) Bidang Sastra. Tahun 2005, meraih Penghargaan Utama GANTI AWARD 2005 untuk novelnya Getah Bunga Rimba. Tahun 2006, novelnya Megalomania, meraih Perhargaan Utama Ganti Award 2006.

Tahun 2007, menerima Anugerah Seni Tradisi, kategori Prestasi Sastra, dari Gubernur Riau, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau.

Tahun 2007, ‘’Opera Melayu Tun Teja’’ menerima Anugerah Sagang kategori Karya Pilihan Non Buku (sebagai penulis libretto dan sutradara).

Tahun 2008, puisinya terpilih sebagai 100 Puisi Terbaik Indonesia 2008, oleh Anugerah Pena Kencana Jakarta.

Tahun 2009, 3 puisinya terpilih sebagai 60 Puisi Terbaik Indonesia 2009, oleh Anugerah Pena Kencana Jakarta. Dia pun banyak diundang sebagai pembicara dan narasumber dalam berbagai helat sastra di Tanah Air.

Memiliki banyak organisasi, lembaga seni sastra yang kian berkembang. Karya-karya Marhalim yang diulas, dikaji dan diresensi, misalnya, buku puisi Segantang Bintang Sepasang Bulan, diulas Raudal Tanjung Banua, dimuat di Minggu Pagi.

Segantang Bintang Sepasang Bulan juga diulas Chairul Anwar dimuat di majalah Tepak dan ulasan Sudarmoko dimuat di Riau Pos. Buku puisi Langgam Negeri Puisi, diulas Maman S Mahayana, berjudul ‘’Gerbong Gagasan Marhalim Zaini’’ dimuat di Majalah Sastra Horison dan Riau Pos.

Buku puisi Langgam Negeri Puisi, diulas atau diresensi Musa Ismail, berjudul ‘’Visualisasi Waktu dalam Langgam Negeri Puisi’’ dimuat di Riau Pos. Novel Getah Bunga Rimba, diulas Zalfeni Wimra, dimuat di Padang Ekspres.

Novel Getah Bunga Rimba diulas Musa Ismail dimuat di Riau Pos dan diresensi Joni Lis Effendi dimuat di Sagang. Buku kumpulan naskah drama Di Bawah Payung Tragedi, dikaji dalam skripsi S1 Sugiat (mahasiswa Universitas Islam Riau), berjudul ‘’Tindak Tutur dalam Naskah Drama Di Bawah Payung Tragedi,’’ 2006 dan masih banyak lagi. Sementara karya teater banyak tak tercatat. 1997, pementasan ‘’Martir II’’ di sejumlah kota di Sumatera Barat, produksi Teater Nadi Martir Padang. 1997, pementasan ‘’Nyi Rangkaspati’’, sebagai pemain, di sejumlah kota di Sumatera Barat, produksi Teater Nadi Martir Padang. 1998, pementasan ‘’Wek-wek’’ karya D Djayakusuma, di Auditorium Teater ISI Jogja, sebagai tim sutradara, produksi Teater 98.  1999, pementasan ‘’Kaki Langit’’ karya Edeng S Maarif, sebagai pemain, di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogja, produksi Teater ESKA. 1999, pementasan ‘’Hedda Gebler’’ karya Anton Chekov serta banyak teater Marhalim yang dinikmati masyarakat Riau maupun Tanah Air.

Marhalim Zaini dan Sekolah Menulis Paragraf

Marhalim Zaini dan Siswa-Siswi "Sekolah Menulis Paragraf"

***

Sumber: www.sagangonline.com

 
2 Comments

Posted by on 30 October 2011 in Profil

 

Cerpen Terjemahan Febby Fortinella Rusmoyo (Riau Pos Ahad 23 Oktober 2011)

JENDELA YANG TERBUKA

23 Oktober 2011 – 09.27 WIB

“Bibi saya akan segera turun, Tuan Nuttel,” ujar seorang remaja lima belas tahun yang sangat tenang. “Sementara menunggu, Anda akan saya temani.”

Framton Nuttel berusaha keras untuk mengungkapkan pujian kepada sang keponakan itu tanpa terlalu mengabaikan bibinya yang hampir tiba. Secara pribadi dia meragukan lebih dari apapun apakah kunjungan formal sebagai orang asing ini dapat sedikit berguna untuk membantu pengobatan syaraf yang sedang dijalaninya.

“Aku tahu apa yang akan terjadi,” kakaknya pernah mengatakan ini saat dia bersiap untuk pindah ke tempat pengasingannya di desa. “Kau akan menimbun dirimu sendiri di sana dan tidak bisa berbicara pada jiwa-jiwa yang hidup, dan syarafmu akan lebih parah dari sebelumnya karena selalu muram. Aku hanya bisa mengirimkan surat perkenalan atas dirimu kepada orang-orang yang kukenal di sana. Beberapa dari mereka, seingatku, cukup baik.”

Framton bertanya-tanya apakah Nyonya Sappleton, salah satu wanita yang juga dikirimi surat perkenalan atas dirinya, termasuk yang baik juga.

“Apakah anda mengenal banyak orang di sekitar sini?” tanya gadis itu lagi, setelah beberapa lama mereka berdiam diri.

“Sangat sedikit,” jawab Framton. “Kakakku pernah tinggal di sini, di rumah pendeta, kau tahu kan… sekitar empat tahun yang lalu, dan dia mengirimkan surat perkenalan atas diriku pada beberapa orang di sini.”

Dia mengucapkan kalimat terakhir dengan tekanan yang agak mengandung penyesalan.

“Dan Anda tidak mengenal bibi saya dengan baik ya?” desak gadis yang tenang itu.

“Hanya nama dan alamatnya,” akunya. Dia bertanya-tanya apakah Nyonya Sappleton ini berstatus menikah atau janda. Ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan mengenai ruangan yang lebih memiliki sentuhan maskulin ini.

“Tragedi terbesarnya terjadi di sini tiga tahun yang lalu,” ujar gadis itu, “Waktu kakak Anda di sini.”

“Tragedinya?” tanya Framton, bagaimanapun di desa yang tenang seperti ini sebuah tragedi tampak tak mungkin terjadi.

“Anda mungkin heran mengapa kami tetap membiarkan jendela terbuka pada sore bulan Oktober,” jawab ponakan itu sambil menunjuk sebuah jendela Prancis yang terbuka lebar menghadap halaman rumput.

“Mungkin karena ini waktu yang sedikit hangat sepanjang tahun,” balas Framton. “Tapi apakah ada hubungannya dengan tragedi itu?”

“Di luar jendela itu, di suatu hari pada tiga tahun yang lalu, suami dan dua adik laki-lakinya pergi berburu. Mereka tak pernah kembali. Saat mencari-cari tempat yang tepat sebagai persembunyian dalam perburuan mereka saat itu, mereka bertiga tertelan lumpur hisap. Saat itu sudah memasuki musim panas yang mengerikan, Anda tahu, dan tempat-tempat yang biasanya aman pada waktu lain di sepanjang tahun, saat itu menjadi sangat berbahaya tanpa ada tanda-tanda. Tubuh mereka tak pernah ditemukan kembali. Itu hal yang paling mengerikan.”

Pada saat itu, suara gadis itu kehilangan ketenangannya dan menjadi tergagap-gagap. “Bibi yang malang selalu berharap mereka akan kembali suatu hari nanti. Mereka, dan seekor anjing spaniel kecil mereka yang berwarna coklat yang juga ikut hilang bersama mereka. Dan berjalan memasuki jendela itu sebagaimana biasa mereka lakukan. Itulah mengapa jendela itu tetap dibiarkan terbuka setiap hari hingga menjelang malam. Bibi sayang yang malang… Dia masih sering menceritakan padaku bagaimana mereka keluar. Suaminya mengenakan mantel hujannya yang berwarna putih, dan Ronnie, adik laki-lakinya yang paling kecil, menyanyikan ‘Bertie, why do you bound?’ seperti yang sering dilakukannya jika sedang menggoda Bibi, dan karena cerita-cerita itu Bibi mendapatkan penyakit syarafnya ini.
Tahukah Anda, kadang dalam kesunyian, malam-malam tenang seperti ini, aku mendapat perasaan aneh bahwa mereka akan berjalan memasuki jendela itu…”

Dia terdiam sambil bergidik. Framton lega saat sang bibi bergegas memasuki ruangan dengan penuh penyesalan karena terlambat tiba.

“Kuharap Vera telah menghiburmu,” ujarnya.

“Dia sangat menarik,” balas Framton.

“Kuharap Anda tidak keberatan jendelanya tetap terbuka,” ujar Nyonya Sappleton segera, “Suami dan adik-adikku akan segera pulang dari berburu, dan mereka selalu masuk dari sini. Mereka pergi berburu, jadi mereka akan membuat karpet saya sangat kotor. Namanya juga pria, ya kan?”

Dia mengoceh dengan riang tentang perburuan dan kelangkaan burung, dan prospek bagi bebek-bebek di musim dingin. Bagi Framton, ini sangat mengerikan. Dia putus asa dan hanya sedikit sekali mampu berusaha untuk memotong pembicaraan Nyonya Sappleton yang terdengar horor. Dia sadar bahwa nyonya rumah itu tidak terlalu memperhatikannya, dan matanya tak pernah lepas dari memandang jendela dan lapangan rumput yang terbuka di belakang Framton. Sungguh ketidaksengajaan yang tidak menyenangkan bahwa dia harus membayar kunjungan ini pada sebuah peringatan tragis.

“Para dokter setuju untuk memberikanku istirahat total, menjauhi rangsangan kejiwaaan, dan mencegah apapun yang bersifat kekerasan fisik,” ungkap Framton, yang bersusah-payah berbicara atas delusi panjang bahwa keterasingan total dan kesempatan berkenalan sesungguhnya membutuhkan detil yang paling minim atas penyakit dan kelemahan seseorang, baik penyebab maupun obatnya. “Tentang masalah diet, mereka tidak terlalu sepakat,” lanjutnya.

“Tidak?” tanya Nyonya Sappleton setelah menguap lebar. Lalu dia mendadak sangat perhatian, namun tidak pada apa yang Framton katakan.

“Akhirnya mereka datang!” teriaknya. “Tepat pada saat minum teh, dan mereka tidak tampak seperti sudah tenggelam dalam lumpur hingga ke mata!”

Framton sedikit gemetar dan berpaling pada gadis keponakan Nyonya Sappleton dengan pandangan yang ingin menunjukkan pemahaman simpati yang dalam. Gadis itu menatap jendela yang terbuka dengan mata terbelalak. Dengan kengerian yang tak terungkapkan, Framton membalikkan badannya dan memandang ke arah yang sama.

Dalam temaram yang pekat, tiga sosok berjalan melintasi halaman rumput memasuki jendela. Mereka masing-masing membawa senapan, dan salah satu dari mereka tenggelam dalam mantel putih panjangnya. Seekor anjing spaniel coklat yang tampak sangat lelah berjalan di dekat kakinya. Tanpa suara mereka mendekati rumah, dan suara serak seorang pemuda memecah kelam, “Aku bilang, ‘Bertie, why do you bound?’”

Framton merampas tongkat dan topinya serabutan, meraih gagang pintu dengan kasar, menghantam jalanan kerikil, membuka paksa gerbang depan dan kabur dengan tergesa-gesa. Dia memacu sepeda menghantam tanaman untuk menghindari tabrakan yang nyaris terjadi.

“Kami datang, Sayang,” ujar pemburu dengan mantel putih, memasuki jendela. “Agak berlumpur, tapi masih kering. Siapa yang meloncat keluar saat kami datang?”
“Pria paling aneh, Tuan Nuttel namanya,” jawab Nyonya Sappleton, “yang hanya bisa berbicara tentang penyakitnya, dan tergagap-gagap tanpa mengucapkan selamat tinggal atau minta maaf karena pergi saat kau tiba. Orang akan mengira dia telah melihat hantu.”

“Kuharap yang dimaksudnya anjing ini,” ujar gadis kecil keponakan itu dengan tenang. “Dia mengatakan dia takut pada anjing. Dia pernah dikejar segerombolan anjing liar sampai ke kuburan di suatu tempat di pinggiran Ganges, dan harus melewati malam itu di sebuah lubang kuburan yang baru digali dengan makhluk-makhluk itu menggonggong dan menyeringai dengan mulut berbusa diatasnya. Cukup untuk membuat siapa saja terganggu syarafnya.”

Nuansa romantis pun memenuhi ruangan itu.

***

Hector Hugh Munro (18 Desember 1870-13 November 1916), dikenal dengan nama pena Saki, dan juga sering disebut H H Munro, adalah seorang penulis berkebangsaan Inggris. Mengawali karir kepenulisan sebagai jurnalis di Westminster Gazette, Daily Express, Bystander, Morning Post, and Outlook. Buku pertamanya terbit di tahun 1900, The Rise of the Russian Empire, sebuah buku sejarah. Novel-novelnya antara lain The Unbearable Bassington, seri The Westminster Alice (sebuah parodi Alice in Wonderland), dan When William Came, subtitle dari A Story of London Under the Hohenzollerns, sebuah novel fantasi tentang masa depan invasi Jerman ke Inggris Raya. Cerpen ini diterjemahkan dari judul aslinya, “The Open Window”, yang termuat dalam situs www.classicshorts.com.

Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan Riau, Sumut Pos; dan puisinya termuat dalam buku Rahasia Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010 yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.

 
Leave a comment

Posted by on 25 October 2011 in Cerpen Terjemahan

 

Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival 2011

Refila Yusra (MC), Budy Utamy (pembicara), Febby Fortinella Rusmoyo (interpreter), Sean Whelan (pembicara)

Refila Yusra (MC), Budy Utamy (pembicara), Febby Fortinella Rusmoyo (interpreter), Sean Whelan (pembicara)

Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 kembali diselenggarakan di Pekanbaru, kali ini ini mengupas tema “Sastra Multikultural”.  Acara ini diselenggarakan pada tanggal 13 Oktober 2011, di Galeri Ibrahim Sattah, Kompleks Bandar Serai Pekanbaru. Hadir sebagai pembicara adalah dua orang penyair yang berasal dari negara yang berbeda, yaitu Sean M. Whelan dari Australia, dan Budy Utamy dari Indonesia, tepatnya dari Riau, dengan pembawa acara Refila Yusra (Komunitas Paragraf Pekanbaru) dan sebagai moderator sekaligus interpreter yaitu Febby Fortinella Rusmoyo (Komunitas Paragraf Pekanbaru).

Acara Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival ini sendiri merupakan rangkaian dari keseluruhan acara Ubud Writers and Readers Festival yang sebelumnya telah diselenggarakan di Ubud, Bali, Indonesia pada tanggal 5-9 Oktober 2011. Sedangkan acara Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan di Pekanbaru setelah sebelumnya pada tahun 2010 juga digelar di Balai Bahasa Riau, Universitas Riau, Pekanbaru, yang juga menghadirkan penulis-penulis dari luar negeri. Sama seperti tahun lalu, acara Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival ditaja oleh Komunitas Paragraf Pekanbaru yang menaungi Sekolah Menulis Paragraf yang telah melahirkan banyak penulis muda berbakat di Riau ini.

Penampilan Sean M. Whelan

Penampilan Sean M. Whelan

Acara Ubud Writers and Readers Festival sendiri merupakan even internasional yang pada tahun ini telah diselenggarakan yang ke-8 kalinya. Visi dari festival sastra internasional ini adalah sebagai ajang untuk menciptakan even berkelas dunia yang membawa pemikiran paling brilian sekaligus paling beragam secara bersama di Bali. Even ini pada awalnya ingin mengembalikan pariwisata Bali setelah tragedi besar Bom Bali yang membuat para wisatawan mancanegara menjadi takut datang ke Bali sehingga menyebabkan perekonomian Bali yang sumber utamanya adalah dari pariwisata menjadi sempat turun drastis. Selain itu, even internasional ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dan potensi besar dalam menanamkan pemahaman lintas budaya, membangun hubungan yang lebih kuat antara penulis-penulis Indonesia dan internasional, meningkatkan harmoni dan rasa hormat antara kelompok etnis yang beragam di Indonesia melalui program-program sastra dan pendidikan yang memfokuskan pada perkembangan aksara dan intelektual.

Pada tahun ini tema yang diusung dalam Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 adalah “Sastra Multikultural”, sejalan dengan visi dan misi Ubud Writers and Readers Festival itu sendiri. Pembicara utama dalam acara ini adalah Sean M. Whelan, yaitu seorang penyair asal Melbourne, Australia, yang telah menelurkan dua buku kumpulan puisinya yaitu Love is the New Hate dan Tattooing the Surface of the Moon. Sean sendiri memiliki latar belakang yang cukup unik karena selain sebagai penyair, beliau juga seorang DJ (Disc Jockey), bekerja di perusahaan rekaman, menulis skenario drama, dan juga mempunyai sebuah kelompok band bernama The Interim Lovers yang telah menelurkan satu album yaitu Softly and Suddenly pada bulan Oktober 2010. Beliau juga mengajarkan sastra di sekolah-sekolah, sebagai pengabdiannya terhadap bidang yang dicintainya ini. Beliau juga mempunyai sebuah program bernama Babble dan koordinator dari Liner Notes, yang keduanya merupakan program musikalisasi puisi yang rutin diselenggarakannya di kafe-kafe di daerah asalnya. Pembicara kedua yaitu Budy Utamy yang berasal dari Riau merupakan penyair muda Riau yang sudah sekitar 10 tahun berkecimpung di dunia sastra nasional. Karya-karyanya sudah banyak tersebar di berbagai media nasional, juga terangkum dalam antologi Kemilau Musim dan Pesona Gemilang Musim, serta juga telah memiliki buku kumpulan puisi dengan judul Rumah Hujan. Bersama dengan Marhalim Zaini, Hary B. Kori’un, dan Olyrinson, beliau mendirikan Yayasan Paragraf yang membawahi Komunitas Paragraf dan menggerakkan Sekolah Menulis Paragraf yang merupakan wadah bagi siapa saja yang mempunyai bakat, minat dan komitmen dalam bidang sastra untuk mengembangkan dirinya. Budy Utamy juga merupakan orang ketiga dari Komunitas Paragraf yang diundang ke Ubud Writers and Readers Festival setelah sebelumnya Marhalim Zaini (2007) dan Hary B. Kori’un (2010).

Para Peserta

Para Peserta

Peserta Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 berasal dari berbagai kalangan seperti dari Balai Bahasa Riau, mahasiswa Universitas Riau, mahasiswa UIN Suska Riau, mahasiswa Universitas Abdurrab, perwakilan Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru, dan lain-lain, serta dari individu yang tertarik dengan bidang ini. Dalam diskusi ini, para peserta kebanyakan menanyakan tentang proses kreatif, bagaimana mengatasi kebuntuan dalam menulis, apa saja jenis-jenis puisi, bagaimana kesan-kesan para penulis dalam menghadiri acara Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Bali itu sendiri, dan khusus kepada Sean M. Whelan, mereka juga menanyakan bagaimana perkembangan sastra terutama puisi di negeri asalnya, Australia. Ternyata di Australia, keberadaan sastra tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, yaitu juga masih belum terlalu akrab bagi masyarakatnya, meski tidak semengenaskan sastra di Indonesia. Di sekolah-sekolah di Australia, pengajaran sastra di sekolah juga masih bersifat umum, namun murid-murid yang tertarik mendalaminya dapat mengambil pelajaran tambahan diluar jam sekolah dalam bidang ini. Selain itu, yang mungkin patut membuat kita sedikit “iri” terhadap mereka adalah adanya perhatian dari Pemerintah berupa bantuan dana bagi warganya untuk menerbitkan sebuah  buku, menyelenggarakan even-even sastra, dan sebagainya. Kita tinggal mengajukan proposal permintaan dananya, dan Pemerintah akan bersedia memberikannnya, dengan catatan benar-benar dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Di negeri kita, mungkin sah-sah saja kita mengajukan permohonan bantuan dana, tapi mungkin persetujuannya ditangguhkan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

Sebagai langkah untuk lebih memasyarakatkan sastra dan menyastrakan masyarakatnya, Sean dan komunitasnya disana juga intens mengadakan musikalisasi puisi di kafe-kafe, bahkan telah mengalbumkan musikalisasi puisi bersama dengan bandnya. Sebuah totalitas profesi yang pantas ditiru. Meski beliau sendiri mengaku bahwa pilihannya sebagai seorang penyair adalah karena baginya puisi merupakan bentuk tulisan yang paling murni. Kita tidak bisa kaya dengan menulis puisi. Mungkin kita bisa kaya dengan menulis novel, atau skenario, dan yang lainnya, tapi tidak jika hanya menulis buku kumpulan puisi. Butuh kolaborasi pekerjaan untuk itu dan itulah yang dijalaninya saat ini.

Acara langka seperti ini tentu seharusnya menjadi catatan yang patut digarisbawahi, mengingat tidak semua kota di Indonesia yang terpilih menjadi tuan rumah Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival, dan pemilihan ini dilakukan langsung oleh Panitia Ubud Writers and Readers Festival. Semoga dalam Ubud Writers and Readers Festival 2012 nanti kembali akan ada penulis Riau yang terpilih kesana, sehingga acara Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival juga dapat dilaksanakan kembali di kota kita tercinta ini, yang diharapkan dapat meningkatkan citra Riau, khususnya Pekanbaru di mata nasional dan internasional.

(FFR)

 
Leave a comment

Posted by on 14 October 2011 in Acara

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.